Thursday, August 29, 2013

Dari kamu untuk seseorang

andai waktu dapat terhenti sejenak
aku ingin mengagumimu dengan tenang
tiada aksi selain memandangmu
mengenalimu, melihat senyummu
memahami artiku bagimu...
orang lain...
bukan siapa-siapa dalam ruang hampa ha
timu
seakan tak sadar akan hadirku

tanpaku kau tertawa...
tanpa senyumku kau bahagia
tanpa aku kau tenang tak terhalang
tanpa aku.....kau senang
dan aku....
hanya mengenangmu dalam dimensiku sendiri....

by
dari kamu untuk seseorang


Friday, July 26, 2013

Menyingkirkan Duri

Kita berbuat baik tentunya bukan untuk mengharap sesuatu. Karena kita sadar itulah peran yang harus kita mainkan. Adalah kewajiban kita untuk menyingkirkan duri di jalan yang sedang kita lalui, bukan saja agar tak melukai diri kita, namun untuk menjaga para pejalan lain.

Jadi, meski tak seorangpun mengucapkan terimakasih atas perbuatan baik anda, itu tak perlu mengecilkan arti kerja anda. Mungkin saja orang lain tak memahami kebaikan itu, karena mereka menganggap memanga seharusnya anda lakukan itu. Maka, apakah artinya sebuah ucapan terimakasih. Biarkan saja kebaikan mengalir dari tangan anda. Dan, biarkan benak anda terbebas dari perasaan berjasa. Temukan arti pesan sang bijak, berikan derma dari tangan kanan seakan-akan tangan kirimu tak mengetahuinya. 

Saturday, July 13, 2013

Teman mu petualangan mu

Main PES saat Pelajaran
Tidur saat bertugas
Beda tipis antara terdampar
dan gila mendadak
Pacaran dulu sebelum pulang

Homoan saat sedang bertugas
Punya boyband


Jika masa sekolah kalian pernah terjadi hal semacam ini, kalian sangat bahagia.
Tidak perlu berapa banyak nama teman yang harus kamu ingat, yang terpenting kamu ingat bahwa mereka ada, mereka masih ada, dan atau mereka pernah ada.

Friday, July 12, 2013

Quote

"Jangan hina pohonnya, kalau masih makan buahnya."
"Berdiri sama tinggi, duduk sama saja."
"Kebencian atau dendam tidak menyakiti orang yang tidak kamu sukai. Tetapi setiap hari dan setiap malam dalam kehidupan mu, perasaan itu menggerogoti dirimu." (Norman Vincent Peale)
"Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja; siapa tahu; pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja; siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan menjadi orang yang kau cintai." (Imam Ali R.A.)
"Sifat cinta sama seperti sifat air dalam tanah. Apabila kamu tidak cukup menggali, yang kamu peroleh adalah air yang keruh. Apabila kamu cukup menggali, yang kamu peroleh adalah air yang bersih dan jernih." (Hazart Inayat Khan)
"Jika kamu membuat seseorang bahagia hari ini, kamu juga membuat dia bahagia dua puluh tahun lagi, saat ia mengenang peristiwa itu." (Sydney Smith)
"Sebelum kamu siap untuk memulainya, kamu juga harus memikirkan bagaimana cara menyelesaikannya"
"Sedikit sekali orang kaya yang memiliki hartanya sendiri.
Hartalah yang memiliki mereka." (Robert G. Ingersoll)





Thursday, March 21, 2013

Sepatu Si Bapak Tua

sepatu si bapak tua
Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota.

Saat menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi. Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, "Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?" Bapak tua itu menjawab dengan tenang, "Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya."

Bapak tua dalam cerita diatas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil melepaskan keterkaitannya pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.

Sikap mempertahankan sesuatu -- termasuk mempertahnkan apa yang sudah tak bermanfaat lagi -- adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterkaitan. Kalau anda terikat dengan sesuatu, anda akan mengidentifikasikan diri anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, anda pasti sulit memberikan apapun yang anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan anda.

Kalau anda pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harata kita sebagai milik kita.
Pikiran ini salah. Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.

Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan kembali kepadaNya. Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan, pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah ini dengan baik, termasuk pada siapa saja yang membutuhkannya.

Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa tergenggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur.
Kenapa? Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi "perpanjangan tangan" Tuhan. Anda tak merasa karena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan "titipan" Tuhan untuk membantu Orang yang sedang kesulitan.

Cara berpikr seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak.

Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak:


"Engkau tidak pernah memiliki sesuatu. Engkau hanya memegangnya sebentar.Kalau engkau tak dapat melepaskannya,engkau akan terbelenggu olehnya.Apa saja hartamu,harta itu harus kau pegang dengan tanganmu seperti engkau menggenggam air.Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas.Akulah itu sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya. Lepaskanlah, dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya."
Oleh: Arvan Pradiansyah, Replubika

Paku

oaku
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang berifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku
dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah ...


Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah ... Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah
menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya,
yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahukan ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar."Hmm, kamu telah berhasil
dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya."Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu
meninggalkan bekas seperti bekas lubang ini ... dihati orang lain.

Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu ... Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada ...
dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik ..."